Mengenang dahsyatnya letusan Tambora 200 tahun lalu


Usai Kongres PDIP IV di Bali, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menghadiri acara Tambora Menyapa Dunia di NTB yang puncaknya akan diselenggarakan pada 11 April 2015. 

Tambora Menyapa Dunia (TMD) merupakan kegiatan menyambut 200 tahun meletusnya Gunung Tambora, di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadikan acara ini sebagai momentum menjaring wisatawan dengan target 2 juta pengunjung. Puncak acara diperkirakan mencapai 15.000 orang yang hadir di kawasan Gunung Tambora.

"Menteri-menteri terkait lain bersiap untuk acara berikutnya di NTB, Mataram dan Tambora," ujar Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, di Istana Kepresidenan, Kamis (9/4).

Pada 10-11 April 1815 Gunung Tambora meletus. Letusan gunung tersebut terdengar hingga Pulau Sumatra atau lebih dari 2.000 km. Abu vulkanik jatuh hingga Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Maluku dan Bali. Dikutip dari situs bbc.co.uk, letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 100.000 orang. 

Sebelum meletus, gunung yang berlokasi di Sumbawa itu sudah mengeluarkan suara gelegar sejak 5 April 1815. Berdasarkan Volcanic Explosivity Index (VEI), erupsi Tambora berada pada skala 7 atau 'super kolosal' dan hanya bisa terjadi sekali dalam kurun waktu 1000 tahun.

Gunung Tambora semula berbentuk kerucut vulkanik tinggi atau stratovulcano. Dahsyatnya erupsi Tambora menyebabkan tinggi gunung yang semula sekitar 4.000 meter menjadi hanya sekitar 2.851 meter. 

Akibat erupsi dahsyat tersebut, terdapat lubang menganga atau kaldera dengan kedalaman hingga 1.100 meter dan lebar sekitar 6,2 km. Kaldera ini salah satu yang terbesar di Indonesia, setelah Rinjani di Lombok dan Toba di Sumatera Utara.

Dahsyatnya letusan Tambora memuntahkan banyak material vulkanik serta gas beracun ke udara. Debu dan material vulkanik ini terbawa angin hingga ke benua Eropa. Sulfur dioksida bereaksi dengan air dan membentuk tetesan asam sulfat (partikel aerosol), yang sangat reflektif dan mengurangi jumlah sinar matahari yang masuk. Belerang dipompa oleh letusan ini ke stratosfer dan menghalangi sinar matahari, suhu global turun sekitar 0,4-0,7 C (0,7-1,3 F) selama 1-2 tahun sesudahnya yakni hingga tahun 1816. Tahun itu dikenal sebagai 'Tahun tanpa musim panas' di Eropa.

Para peneliti yakin bahwa kehidupan sedang berlangsung saat Tambora meletus. Keyakinan tersebut akhirnya terbukti setelah pada tahun 2006, ekspedisi yang dipimpin oleh Professor Haraldur Sigurdsson dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat membuahkan hasil. Para peneliti mengungkap adanya kerajaan yang terkubur akibat erupsi Tambora.

Mereka menyebutnya sebagai 'Pompeii dari Timur'. Penemuan berupa mangkuk perunggu, pot keramik dan artefak lainnya menunjukkan bahwa lokasi tersebut masih menerapkan budaya lama Indonesia sebelum terkubur. 

"Ada potensi yang Tambora bisa disebut sebagai 'Pompeii dari Timur', dan itu sangat menarik dari sisi budaya," kata Profesor Haraldur Sigurdsson, seperti dikutip bbc.co.uk.

Pompeii adalah kota di zaman Romawi Kuno yang terkubur letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi. Namun, meski terkubur, reruntuhan bangunan di Pompeii tidak mudah hancur karena berbahan batu. Sedangkan sisa-sisa Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat sulit ditemui mengingat bahan bangunan di kedua kerajaan itu memakai kayu.

Menyadari potensi Tambora, Pemerintah Provinsi NTB bertekad menjadikan Tambora sebagai salah satu daya tarik pariwisata. Pemprov NTB ingin memajukan sektor pariwisata dan menjadikannya sebagai salah satu motor perekonomian daerah. 

Target pariwisata tahun 2015 sudah dipatok yakni 1,7 juta hingga 2 juta wisatawan mancanegara dan wisatawan Nusantara berkunjung ke NTB. Peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora menjadi momentum memperkenalkan wisata Sumbawa dan Lombok. (merdeka.com)

Mengenang dahsyatnya letusan Tambora 200 tahun lalu Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 komentar:

Post a Comment